Menguak Makna Kata Iedul fitri

Oleh: Aliyuddin

Fitrah adalah kata yang cukup dikenal dan sering diucapkan. Bahkan kata ini sering dipakai sebagai nama perempuan, yaitu Fitri atau Fitriyah, yang artinya (bersifat) suci, murni, mungkin juga kodrati atau alami. Kemudian kata ied yang berasal dari kata “ ’ada ” berarti “kembali”. Kembali kepada apa? Kembali kepada fitrah. Zakat fitrah adalah simbol yang menandakan seseorang telah kembali kepada fitrahnya, yakni fitrah kemanusiaan.  Lantas apakah yang sesungguhnya Fitrah itu sehingga untuk menggapainya seseorang harus menempuh perjuangan yang begitu berat, yaitu melaksanakan puasa sebulan penuh.

Kata fitrah, sebagaimana banyak disebutkan dalam Al Qur’an  berasal dari kata “fathara” yang arti sebenarnya adalah “membuka atau membelah”. Kalau dihubungkan dengan kewajiban puasa Ramadhan yang sebulan lamanya itu, maka kini mengandung makna ”berbuka puasa”.

Jika diperhatikan, kata “fitrah” ini berkaitan dengan soal ciptaan Allah, seperti kata fitratallahi, dalam Al Qur’an, sering diterjemahkan sebagai “ciptaan Allah”. Kata Fatir (nama sebuah surat Al Qur’an) diartikan sebagai pencipta, yaitu Allah. Kata fathiri samawati wal ardhi sering diterjemahkan sebagai The Originator, berasal dari kata the origin, “yang awal”, sehingga maknanya adalah “yang mengawali, atau dari segala yang asal.

Kata fitri juga seringkali dikaitkan dengan kata Hanief. Hanief diterjemahkan secara bebas menjadi “cenderung kepada agama yang benar’ atau agama Tauhid, yakni agama yang menyerukan untuk menyembah Tuhan yang satu, sebagaimana digambarkan dalam surat Al An’am ayat 79.  (sesungguhnya aku menghadap diriku dengan lurus (hanief) , kepada Dzat yang menciptakan (fathara) langit dan bumi, dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukan (Tuhan).

Perlu digarisbawahi di sini, ajakan kepada agama Tauhid”, yang terkandung dalam kata hanief”. Istilah ini dipakai Al Qur’an untuk melukiskan sikap kepercayaan Nabi Ibrahim a.s. yang menolak menyembah berhala, bintang, bulan, ataupun matahari, karena semuanya itu tidak patut disembah, karena yang patut disembah hanyalah Allah Dzat pencipta langit dan bumi.

Dalam ayat lain Al Qur’an menceritakan bahwa manusia, segera setelah diciptakan, membuat sebuah perjanjian atau ikatan primordial (primordial compenant) dengan Tuhan yang isinya adalah bahwa manusia mengakui eksistensi Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT.  Dengan kata lain, bahwa kecenderungan asli atau dasar manusia adalah menyembah Tuhan yang Satu. Maka ketika manusia mencari makna hidup, kecenderungan manusia adalah mencari Tuhan yang Maha Esa.

Dari keterangan di atas, maka yang menjadi sasaran tujuan hidup manusia sesungguhnya  adalah menemukan kembali nilai-nilai ketauhidan yang kadang menjauh atau terlepas dari diri mereka. Maka dengan datangnya idul fitri selepas menjalankan puasa sebulan penuh, dimana dalam puasa itu seseorang digembleng agar  tumbuh nilai-nilai kemanusiaan yang asli, dengan mengeluarkan zakat, diri seorang muslim dibersihkan dari sifat-sifat kebinatangan dan sifat-sifat syaitan yang mungkin bersarang di hati nya, dengan banyaknya berbuat kebajikan dengan sesama maka tumbuh pula rasa solidaritas antar sesama manusia.

Dengan begitu maka nilai yang terkandung dalam perayaan hari Iedul fitri adalah pertama, bahwa manusia dibersihkan dari segala dosa dan noda yang melekat dalam dirinya, kedua menemukan kembali nilai-nilai ketauhidan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sehingga dia akan merasa lebih dekat denganNya. Itulah kemenengan manusia yang hakiki, kemenangan kita semua sebagai umat Islam, semoga.  Wallahu  a’alam bi shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s