Hambatan komunikasi

  1. Gangguan (barrier)

Menurut sifatnya, gangguan komunikasi terbagi kedalam dua jenis, yaitu gangguan mekanik dan gangguan semantik. Gangguan mekanik yaitu gangguan yang disebabkan oleh saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik. Contohnya adalah gangguan sudara ganda (interferensi) pesawat radio yang disebabkan oleh dua pemancar yang berdempetan; gambar meliuk-liuk yang berubah-ubah pada layar televisi, huruf/gambar pada infocus tidak jelas, kebisingan kendaraan dijalan raya, atau halaman yang robek pada surat kabar.

Gangguan lainnya adalah gangguan semantik. Gangguan jenis ini berkaitan dengan makna dari pesan tersebut. Gangguan semantik biasanya ditimbulkan saat penggunaan bahasa.

Contohnya secara denotatif semua orang akan setuju, bahwa anjing adalah binatang berbulu, berkaki empat. Secara konotatif banyak yang menganggap anjing sebagai binatang piaraan yang setia, bersahabat dan panjang ingatan. Tetapi untuk sebagian lainnya, perkataan anjing mengkonotasikan binatang yang menakutkan dan berbahaya.

2. Kepentingan

Kepentingan akan membuat orang selektif dalam menerima pesan. Seseorang yang sedang tersesat di hutan dan beberapa hari tidak menemukan makanan sedikitpun, dan diberi pilihan berlian dan makanan, maka seseorang tersebut dipastikan akan memilih makanan.

Contoh lain, memberi materi mengenai operasi tulang tidak akan efektif, tetapi jika memberi materi mengenai perawatan luka dan gizi seimbang bagi keluarga yang sedang menunggu pasien pasca operasi barangkali akan lebih efektif.

3. Motivasi Terpendam

Motivasi akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang sesuai benar dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya. Motivasi seseorang berbeda dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat. Perbedaan motivasi itu yang dapat menjadi hambatan komunikasi.

Semakin sesuai komunikasi dengan motivasi maka semakin besar pesan akan diterima dengan baik. Sebaliknya, komunikan akan mengabaikan suatu komunikasi yang  motivasinya taksesuai dengan komunikan.

4. Prasangka

Prasangka merupakan suatu hambatan berat bagi kegiatan komunikasi karena orang yang mempunyai prasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang hendak memberikan komunikasi. Prasangka bukan saja dapat terjadi terhadap suatu ras, melainkan juga terhadap agama, pendirian politik, kelompok, pendek kata perangsang yang dalam pengalaman pernnah memberi kesan yang tidak enak.

Contohnya, seorang politikus yang di suatu tempat mengemukakan suatu analisis yang ternyata meleset, akan ditanggapi dengan penuh prasangka apabila ia kembali berpidato di tempat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s