Apakah ibadah kita diterima?

Apakah ibadah kita diterima?

Teringat tausyiah Ust. Athian Ali Dai dua hari lalu (semoga Allah selalu memberkahi beliau, Aamiin),
Jika saja ibadah kita diterima, maka dari shalat ke shalat maka dosa kita sudah diampuni, dari Jumat ke Jumat dosa kita diampuni, dan dari Ramadhan ke Ramadhan dosa kita diampuni, subhanallah betapa Maha Baik Allah yang menyediakan banyak sekali waktu untuk kita membersihkan dosa-dosa kita.

Tapi pertanyaannya apakah ibadah kita diterima?
sedangkan Allah berfirman, yg artinya: “Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS. al-Ma’un: 4 -5).

Dan terdapat dalam suatu hadist, kurang lebih maknanya begini: “Alangkah banyaknya orang-orang yang shalat mereka tidak memperoleh apa-apa dari shalatnya kecuali capek/pegal, dan alangkah banyaknya orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga”

Naudzubillah…

Lantas bagaimana agar ibadah kita diterima? Dari catatan yang saya dapat saat tausyiyah beliau kurang lebih ada dua hal:

1. Semua rukun ibadah tersebut terpenuhi
Setiap ibadah memiliki rukun yg pasti diawali niat, Niat adalah sesuatu yang tersirat dalam hati, tidak usah dilafadzkan. selanjutnya lakukan rukun-rukun lain dengan benar. Rukun itu tiang, jika suatu bangunan tidak memiliki tiang maka semua yg ada pada bangunan itu akan runtuh, begitu juga dengan rukun dalam ibadah.

2. Ikhlas. Menurut pak Athian, ikhlas itu murni, tanpa tercampur apapun. Jadi ketika ibadah kita benar- mengharap ridho Allah. Bukan untuk kepentingan dunia semata, bukan untuk riya/ingin dipuji orang lain. Ia menambahkan, jika sulit mengukur keikhlasan, ia menjelaskan, “ika kita beribadah untuk mendapatkan surga, dan takut masuk neraka, sudah aman, lah!”

Subahanallah, Allah telah memberi kita panduan yang lengkap untuk selalu menjadi umat yang bahagia di dunia dan diakhirat yaa…hanya kadang kita malas belajar, malah mengevaluasi diri, dan malas mengaplikasikan apa yg sudah kita ketahui. Ramadhan ini dapat kita jadikan sebagai training center, untuk lebih disimplin, lebih sabar, lebih ikhlas, dan banyak lagi.

Dan karena sifat manusia itu pelupa, iman itu kadang turun dan naik, kadang lemah kadang kuat, perlu dukungan lingkungan untuk saling mengingatkan dan menguatkan. Mari menjadi muslim yang selalu merekatkan silaturrahim, mengingatkan pada kebaikan dan mencegah dari kebathilan, menguatkan pada yang benar. Semoga selalu bersama dan berlomba dalam kebaikan menuju JannahNya. Aamiin, aamiin Ya Robbal alamin..

Catatan dhuha, 8 Ramadhan 1438 H
-Fitri Laila-
(Mohon koreksi jika terdapat hal yang salah pada tulisan saya 😊😊

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s