Akreditasi, Perbaikan atau Pemborosan?

Akreditasi, Perbaikan atau Pemborosan?

Catatan ini hanya tulisan saya pribadi, dan dari perspektif pandangan yg gak luas, benar2 keluar dari hati saya yg sempit dan pikiran yg dangkal (lebay mode: on)

Menyoal akreditasi yg sedang marak dimana2, yg meminta dana begitu banyak, menyedot perhatian penuh, memeras keringat dan merampas pikiran..

Bukan hanya tentang bagaimana lelahnya mempersiapkan akreditasi, tapi banyak juga yg turut memikirkan berapa banyak uang yg harus dikeluarkan demi semua ini, jangankan penyelenggaraannya, pelatihannya saja habiskan ratusan juta bahkan mungkin mencapai M..belum simulasinya, belum penyelenggaraannya, untuk bayar narasumber, surveyor, akomodasi, snack ratusan orang dan banyak lagi..banyak lagi…dan itu uang semua, gak bisa dicampur daun..

Salah seorang “pengamat” a.k.a masyarakat awam dari luar institusi menyampaikan langsung pada saya “aah…eta mah pupujieun”, satu lagi berkata “gak ngaruh, yg penting pelayanan”
Lebih dari itu, internal berseloroh “untuk apa, tak berdampak pada kita alias ga ngaruh”, satu lagi berkeluh “biaya sebesar itu, kalau dibelikan alat mungkin lebih bermanfaat, kan di kita pasien banyak yg antri alat ini, alat itu, mungkin akan lebih baik kalo akreditasinya di stop, belikan alat”, satu lagi berkata ” aaah koq pelayanannya gitu2 aja…” ..”cape, gaji tetap kerjaan makin banyak”..Dan banyak lagi suara sumir.

Untungnya, suara sumir ini bukan yg mendominasi, masih banyak suara positif dan konstruktif..”akreditasi penting, kita sangat butuh, dg akre kita jadi tau apa yg sudah kita lakukan benar, atau salah”,,”semenjak akreditasi kita jadi lebih hati2 dan waspada, semua tindakan berbasis oada keselamatann pasien, ada lagi yg bilang “syukurlah ada akreditasi rekam medis pasien skrg jadi penuh, jelas dan tepat, hal ini mendukung terciptanya pelayanan yg bermutu untuk pasien” dan banyak lagi…

Begitulah, tak ada satu permasalahan yg mulus, selalu ada pro dan kontra…selayaknya, akreditasi merupakan gerakan berjamaah untuk memperbaiki diri, memusatkan perhatian hanya untuk keselamatan pasien, bkn yg kain, menjamin mutu pelayanan demi keselamatan pasien dan kepuasan bukan kepentingan pribadi, semuanya demi kenyamanan dan keamanan pasien, petugas maupun institusi.

Tapi biayanya itu loh, mwahal pake w..ratusan juta, bahkan milyaran..knapa mahal? Saya kira wajar, karena 5 hari pelatihan atau survey akreditasi adalah ilmu..ilmu yg bisa dimanfaatkan oleh ribuan pegawai dari pucuk pimpinan sampai lapisan bawah.

Akreditasi juga merupakan kesempatan untuk perbaikan, bagi kita yg sudah menahun berada di institusi ini, kita sering merasa apa yg sudah dilakukan sudah benar dan tdk berpikir untuk melakukan perbaikan, resisten akan masukan dari pasien dan orang2 disekitar kita, bahkan kita sering tak sadar bahwa kelalaian kita bisa saja membahayakan pasien…melalui ajang inilah kita disadarkan dan diingatkan, betapa sedetik bisa sangat berpengaruh, sehingga kita tak boleh berleha2, betapa bakteri kecil ditangan kita bisa membawa kuman penyakit, maka kita harus selalu menjaga kebersihan tangan, betapa senyuman kita akan sangat berarti bagi mereka, betapa catatan2 penting di rekam medis akan mendukung penyembuhan mereka, betapa ruangan yg aman dan bersih akan sangat berperan, betapa tindakan yang sesuai prosedur akan menyelamatkan kita dari kerugian bagi pasien dan bagi petugas, betapa, betapa…banyaaaaak sekali ilmu..

Sayangnya, kesempatan besar ini tidak dimanfaatkan oleh semua orang. Masih saja ada yg enggan, masih saja ada yg tak mau berpartisipasi. Jika saja, setiap orang mengambil andil, memusatkan perhatian, melaksanakan semua pelayanan demi keselamatan pasien akanlah akreditasi ini sangat berguna bagi masyarakat, bukan sekedar seremonial belaka, melainkan benar2 mereformasi budaya…aah..rasanya paragraf ini perlu ditekankan bagi diri saya sendiri dan tim…

Memaang, menurut saya tetap aja biayanya masi terlalu mahaaal…hehe…semoga Kementerian Kesehatan bisa membantu melakukan sesuatu agar biayanya gak terlalu mahal, toh ini demi kepentingan masyarakat banyak..
tapi..karna biaya segunung itu sudah gak terelakkan..satu2nya yg bisa kita lakukan adalah, manfaatkan sebaik2nya moment ini..setiap unit kerja pasti punya standar, setiap pekerjaan ada SPO, cukup lakukan semuanya sesuau standar dan prosedur,catat, review dan evaluasi.

Namun, inti dari semua ini adalah melayani dg empati dan ilmu. Perlakukan pasien sebagaimana kita ingin diperlakukan jika menjadi mereka, jamin keselamatan pasien sebagaimana kita ingin keselamatan kita dijaga, bahagiakan pasien sebagaimana kita ingin dibahagiakan saat menjadi pasien. Dan, baca lagi ilmunya, berempati tanpa ilmu akan sia2..

Itulah fungsi Allah memberi kita akal dan hati, untuk melayani dengan empati yg didasari ilmu. Bismillaah…

Daan, jika, seandainya, misalkan, ada segelintir org yg masih saja memanfaatkan acara ini hanya untuk kepentingan pribadi semata, baik itu dr pihak Kemkes, atasan, staf atau siapapun, saya yg hanyalah apalah apalah ini hanya bisa mendoakan semoga Allah SWT membukakan pintu hatinya agar meluruskan niatnya, terlalu banyak yg dikorbankan jika hanya demi kepentingan pribadi, ada masyarakat banyak yg menanti perbaikan pelayanan terjadi..

Waduh, sepertinya curhat saya sudah terlalu panjang..maafkaan..intinya, tahapan akreditasi ini sebuah kewajiban, marilah jadikan kewajiban ini bermakna dan berpahala dan bukan semata untuk menggugurkan kewajiban, semoga.

Barang siapa memudahkan urusan saudaranya, Maka Allah akan memudahkan urusannya, di dunia maupun di akhirat, In Shaa Allah.
Semoga segala upaya bapak ibu dalam melayani pasien mendapatkan pahala yg berlipatganda dari Allah SWT dan menjadi kunci masuk menuju jannahNya..aamiin…

Maafkan jika ada yg salah, masukan dan kritik akan selalu saya nanti demi terciptanya tulisan yg tdk menyesatkan

Selamat berlibur, sampai jumpa Senin untuk yg akan lembur, dan sampai jumpa selasa untuk yg lainnya

Have a nice long weekend…

Fitri Laila, Bandung 30 April 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s