Menulis Itu Menebar Manfaat

Menulis Itu Menebar Manfaat

Menulis Itu Menebar Manfaat

“Sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya,”

Nampaknya, Hadits Rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-thabrani, Ad-Daruqutni ini paling cocok untuk mengawali esai saya mengenai alasan mengapa saya harus mampu menulis. Menulis bagi saya adalah seni untuk menyampaikan pesan. Dengan tulisan, bayak orang yang dapat terinspirasi. Dengan menulis, apalagi didukung dengan media sosial yang saat ini semakin disukai masyarakat, manusia sebagai insan dapat menebar manfaat tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Satu tulisan kita, jika baik, menarik dan bermanfaat, dapat mengubah hidup seseorang.

Tulisan dapat membuat suatu hal yang sangat jauh terasa lebih dekat, tulisan membuat suatu tokoh hebat yang sulit disentuh terasa semakin dekat di hati, tulisan membuat suatu ilmu yang rasanya sulit dilakukan terasa semakin mudah, tulisan juga membuat permasalahan serat yang sedang dihadapi terasa semakin ringan. Tulisan juga merupakan penghubung antara pembaca dengan dunia luar.

Bagi saya, tulisan mengekspresikan kegundahan, ketegaran, semangat, eksistensi, keberagaman, alternatif solusi dan banyak hal yang terkadang sulit diungkapkan dengan lisan. Melalui berbagai sifatnya inilah, tulisan menjadi hadiah bagi penulis dan pembacanya.

Indonesia Miskin Literasi?

Terlebih, saat ini budaya literasi di Indonesia sangat rendah. Tulisan karya Najwa Shihab yang dirilis Harian Kompas, 18 Agustus 2016 menjelaskan, menurut data dari The Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia. UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! tepatnya 0,001 persen, yang artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Sebagai individu yang sering berinteraksi dengan anak-anak,  saya sangat khawatir terhadap perkembangan mereka, karena, memang benar, sulit sekali menanamkan kegemaran pada membaca dan menulis di kalangan anak – anak hari ini. Begitu besar keinginan saya untuk mengembangkan kemampuan menulis saya, karena dengan tulisan saya, ingin sekali mengajak mereka gemar membaca, gemar ber-literasi. Karena seperti yang disampaikan Najwa, masalah literasi memang tidak segenting persoalan energi atau pangan, tetapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah!.

Di tengah terjangan arus globalisasi yang memukau dan menyilaukan, literasi menjadi budaya yang dianggap konvensional bahkan terbelakang. Betapa masyarakat sekarang sangat permisif terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia maya, “ringan dompet” untuk membeli gadget terbaru tetapi berpikir seribu kali untuk membeli buku. Rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan ponsel pintar untuk bermain game tapi sungkan berlama-lama membaca buku. Ah, bagi saya, pemandangan tersebut cukup memilukan. Saya sendiri, saat ini sulit untuk menghindari daya pikat gadget yang mengasyikan, semakin hari porsi waktu membaca saya semakin menurun, sedangkan, untuk bisa menulis, seseorang harus banyak membaca. Perlu effort khusus dari diri sendiri dan lingkungan yang mendukung untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis. Lagi, dengan tulisan, saya ingin mengajak banyak orang untuk kembali mencintai budaya literasi.

book-read-2Banyak cara untuk menebar manfaat, tetapi bagi saya, menulis adalah salah satu upaya untuk menebar manfaat yang paling murah tetapi juga berdampak luas. Didukung pemanfaatan teknologi informasi yang hari ini semakin canggih, tulisan kita akan menjamah ke lebih banyak orang bahkan ke lebih banyak generasi. Tetapi yang harus digarisbawahi adalah, kita harus mampu memanfaatkan teknologi informasi, bukan sebaliknya, terbawa arus, dan dimanfaatkan pihak-pihak yang menguasai teknologi informasi.

Menjadi Humas yang Mencerahkan

Selain sebagai individu yang bermasyarakat dan sebagai pendidik anak-anak, menulis adalah tuntutan saya dalam berkarir. Sebagai Humas yang bergerak dalam dunia kesehatan, saya memiliki tanggungjawab untuk menciptakan tulisan yang mencerahkan dan menggugah. Tangung jawab ini dibagi kepada dua kelompok. Kedalam, yaitu kepada pegawai, tulisan saya dan teman-teman lain di Humas harus memuat nilai motivasi, ajakan, juga terkadang (jika dibutuhkan) ancaman, dengan tujuan meningkatkan rasa memiliki bagi pegawai, meringankan beban, merasa dihargai, membahagiakan dan meningkatkan etos kerja.

Sementara tanggungjawab keluar, yaitu pasien, keluarga pasien dan publik lain, adalah bagaimana kebijakan dari pimpinan bisa diterima dengan baik oleh publik sehingga pelayanan dirasakan semakin mudah, kepuasan pelanggan terjaga dan keselamatan pasien terjamin. Adapun dalam aspek edukasi, tulisan yang kami buat diharapkan dapat memperkaya pengatahuan dan daya nalar publik, membuat publik “melek” kesehatan dan mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatannya. Semua ini berujung pada peran aktif Humas dalam menciptakan kesehatan masyarakat Indonesia.

Ah, banyak sekali manfaat menulis yang membuat saya bertekad, “saya harus bisa menulis”!. Semoga esai saya ini menjadi alasan yang cukup untuk terus belajar dan belajar menulis. Belajar dari ahlinya, belajar dari lembaga yang profesional, belajar terus kapanpun dan dari manapun, semoga!.

Bandung 2 November 2016

Fitri Laila Hadiyani, S.Sos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s