Memimpin Dengan Teladan

Memimpin Dengan Teladan

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari

Rasanya pepatah ini sangat tepat dengan kondisi manapun, dahulu, apalagi sekarang. Seorang Guru merupakan teladan bagi muridnya, seperti seorang pemimpin menjadi teladan bagi anak buahnya. Saat seorang pemimpin mengarahkan anak buahnya dengan bijak dan tenang, maka anak buah akan menerima arahan dengan bijak dan tenang.

Ketika seorang pemimpin merangkul anak buahnya saat ada permasalahan, bersedia menjadi pendengar yang baik dan berempati atas apa permasalahan tersebut, maka anak buah akan merangkul balik, bersedia menerima apa yang diinginkan dan berbuat yang terbaik agar permasalahan tersebut tidak berimbas kepada pimpinannya

Sebaliknya, saat ada masalah, dan seorang pemimpin datang dengan wajah kusam, mata melotot, alis berdiri dan dahi merengut, alih-alih mendengarkan masalah yang ada, pemimpin ini hanya mencari-cari kesalahan, dan justru cenderung menyudutkan anak buahnya, maka tidak heran jika anak buahnya akan balik menanggapi dengan emosi, tidak terima, dan pada akhirnya solusi tidak ditemukan.

Kejadian yang berlarut-larut tersebut sangat tidak baik bagi keberlangsungan organisasi, pegawai/staf/anak buah hanyalah seorang manusia yang akan mengerjakan apapun yang diinginkan pemimpinnya. Tentu saja jika ia diperlakukan dengan baik dan menyenangkan. Bisa saja seorang pegawai mengerjakan setiap tugas pemimpinnya walaupun pemimpunnya tidak baik, tetapi dengan terpaksa dan mental yang cenderung tertekan karena menahan emosi secara terus menerus.

Teringat nasihat seorang pejabat di salah satu kementerian, ia menjelaskan bahwa ia sering datang paling awal daripada para stafnya, ia juga orang yang paling sering membawa pekerjaan ke rumah. “Itulah tugas saya, saya dibayar lebih besar dari pada staf saya untuk bekerja lebih baik dari mereka. Mereka (bawahannya.red) boleh terlambat, saya sebagai pemimpin ga boleh terlambat. Mereka boleh malas, saya sebagai pemimpin ga boleh malas” tegasnya.

Dan satu kata yang tidak akan saya lupa, jika kelak saya menjadi pemimpin dalam unit yang lebih besar, ditempat kerja saya ini, di perusahaan saya kelak (amin), di keluarga saya dan dimanapun, kalimat ini yang akan saya ingat. “Pemimpin adalah pelayan bagi stafnya. Ia tidak akan melayani langsung pelanggan. Stafnya-lah pelanggannya. Jika kita melayani dan memperlakukan staf seperti seorang raja, maka staf kita akan memperlakukan pelanggannya seperti seorang raja. dan perusahaan akan tumbuh berkembang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s