Humas Pemerintahan Dengan Media Massa

Humas Pemerintahan Dengan Media Massa

Di era keterbukaan informasi publik ini lembaga publik wajib melayani kebutuhan informasi yang dibutuhkan publik, terlebih lembaga pemerintahan. Informasi saat ini menjadi hal yang sangat “seksi” dan sangat krusial. Bahkan banyak yang berpendapat, informasi menjadi kebutuhan pokok. Media massa sering dikatakan memiliki peran sebagai “anjing penjaga” dan cenderung berada di sisi yang berlawanan dengan pemerintah. Istilah tersebut mengesankan bahwa pers telah menjadi perwakilan dari rakyat untuk “menjaga” dan “memperhatikan” kinerja pemerintah. Dengan asumsi itu, pemerintah dikesankan selalu salah, sementara pers selalu benar. Pers pun memandang bahwa institusinya berdediaksi tinggi apabila sukses mengungkapkan “kebobrokan” pemerintah. Hal inilah yang sering membuat para pejabat di pemerintahan “enggan” bergaul dengan wartawan.

Pers itu bersifat bebas. Termasuk untuk berpihak kemanapun sesuai visi dari institusinya. Media massa dapat mendukung semua kebijakan pemerintah atau mungkin menentang kebijakan lainnya. Atau bisa saja bersikap mendua terhadap suatu kebijakan sesuai “pesanan”. Bagaimanapun pers merupakan institusi yang berorientasi pada laba. Mereka akan bersikap netral dan seberpihak mungkin pada rakyat namun tetap dapat menghasilkan untung. Sebuah media massa dapat memposisikan diri sebagai teman atau lawan bagi pemerintah sesuai siapa pemilik media tersebut.

Namun, dengan strategi Humas yang apik, media dapat menjadi partner yang sangat menguntungkan bagi instansi pemerintahan. Berteman dengan media dapat memberikan pengetahuan yang cepat kepada masyarakat, dengan demikian visi, misi, program lembaga tersebut dapat terbantu realisasinya. Selain itu pers dapat menyampaikan kinerja pemerintah kepada publik sehingga lembaga tersebu mendapatkan kepercayaan dari publik (citra posiif).

Bagaimanapun, pers memerlukan berita untuk “makan”. Hampir semua pernyataan pers berasal dari pemerintah. Bisa didapat dari Pemerintah Pusat, Pemda, Lembaga Kesehatan Pemerintah, Dinas-dinas, Lembaga hukum, dan lain sebagainya. Sebaliknya, pemerintah juga memerlukan media yang efektif untuk menyampaikan seluruh kebijakan kepada masyarakat. Jika kedua kebuuhan tersebut telah bertemu, maka yang akan terjadi adalah simbiosis mutualisme. suatu kndisi yang saling menguntungkan antara pers dengan lembaga pemerintah.

Disinilah pentingnya memiliki petugas Humas yang kredibel khususnya dalam media relations. Petugas Humas pemerintah mengetahui dengan pasti berbagai pers yang siap menerima informasi yang akan diberikan lembaga pemerintah, jeli mengetahui bagaimana memperlakukan media tersebut, pandai berkomunikasi dengan mereka dan pandai mengklasifikasi informasi mana yang dapat dibagi seterang-terangnya dan informasi yang dapat dibagi “sebagian” bahkan ditutup. Hal lain yang terpenting adalah, dalam menghadapi media, Petugas Humas selayaknya pandai untuk memberi pengertian kepada pimpinan (Direktur, Kepala, Ketua lembaga tersebut) untuk “membuka tangan” terhadap media, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dengan media. Jika media merasa mudah mendapatkan informasi dari pemerintah, maka ketika pemerinah memerlukan media untuk mempublikasikan sesuatu, maka akan mudah.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah pemilihan mana media yang “kredibel” dengan yang tidak. Khususnya ke lembaga pemerintah, masih banyak Wartawan Tanpa Suratkabar (WTS) yang beredar, yang orientasinya hanya untuk medapatkan materi. Di tahun ini saya menemukan kasus baru, para WTS ini menggalakan modus baru, yaitu membuat suatu perhimpunan wartawan/jurnalis/pers, lalu menyelenggarakan acara-acara penghargaan, mengirimkan penawaran ke berbagai lembaga pemerintahan untuk membayar sejumlah uang untuk mendapatkan penghargaan seperti “man of the year”, “the best leader” “top man in indonesia” dan berbagai penghargaan lain. Penghargaan yang disampaikan dalam bentuk piagam ini harus ditebus dengan harga minimal 2 juta perlembarnya bagi peserta/pejabat yang ingin mengikutinya. Untuk itu, petugas Humas harus pandai mana wartawan yang benar-benar dapat dijadikan partner dan media mana yang hanya menjadi “benalu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s