2014 tahun pesta rakyat? atau pesta politik?

2014 tahun pesta rakyat? atau pesta politik?

Tahun 2014 merupakan tahun yang ‘panas’ bagi Indonesia. Bagaimana tidak, ditahun politik ini sekitar 6.600 caleg akan melakukan segala cara untuk memperebutkan 560 kursi DPR pada 77 Dapil. Di awal tahun ini gerakan-gerakan politik telah bermunculan, seperti kampanye berkedok sosialisasi, rapat koordinasi, kuliah umum, seminar, kuis di televisi, iklan partai dan capres dan masih banyak lagi. Dari sisi lain gerakan politik juga tersirat, mulai dari terungkapnya kasus korupsi & pencucian uang, import ilegal, penyerangan terhadap partai politik, kemunculan tokoh-tokoh baru seperti Walikota maupun Gubernur, blow up berlebihan dari kasus-kasus tertentu yang terjadi di ibukota maupun kota-kota lainnya dengan tujuan mendiskreditkan pimpinannya dan banyak hal lagi. akhir-akhir ini media massa kebanjiran berita, yang tentunya tidak dapat dipungkiri merupakan “pesanan” dari pemilik media tersebut.

Ya, inilah tahun 2014 dimana terdapat 15 partai sedang sibuk luar biasa memutar otak agar dapat “mengambil hati” rakyat Indonesia. Masyarakan dipaksa mengiyakan kebaikan dari partai-partai tersebut. Mereka memberi sembako, menolong korban banjir, melakukan berobat gratis, membagi-bagikan hadiah dalam quis dan banyak program lainnya. Ya itulah cara mereka meyakinkan masyarakat bahwa partai ini baik, dan partai ini tidak.

Ditahun inilah kota-kota menjadi semakin kumuh. Kumuh oleh baligo-baligo, flyer-flyer caleg, poster, stiker dan banyak lagi yang dipasang tidak beraturan dan sangat mengganggu keindahan. Selain kota yang kumuh, tahun ini juga triliyun-triliyun beterbangan. Saat musibah dimana-mana, kerusakan dimana-mana, kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan merajalela, orang-orang partai memantapkan hati menggelontorkan milyaran rupiah untuk biaya kampanye mereka. Dari data biaya kampanye yang dilaporkan saja jumlahnya sekitar 2 Trilyun telah disiapkan parta-partai untuk berkampanye, yang terbesar Partai Gerindra sekitar 306,5 M dan terkecil PKPI 36,2 M, Wah angka yang fantastis!. Jika 2 T itu digunakan untuk hal lain barangkali cukup untuk membuat sekolah bertaraf internasional dengan biaya murah, atau membuat perusahaan yang mempekerjakan banyak sekali pengangguran di Indonesia, tapi ya sudahlah, itu lah harga Demokrasi kita, harga mahal yang harus dibayar untuk mendapatkan tokoh2 yang “semoga” dapat benar-benar mewakili rakyatnya.

Tahun ini memang tahun politik dimana sebagian orang sibuk mencari kekuasaan, pemberitaan yang luar biasa heboh itu, kondisi kota yang kumuh itu, triliunan rupiah yang digelontorkan itu sulit untuk kita kendalikan. Mutlak, semuanya akan terjadi. Yang kini menjadi pilihan adalah: “jika ini kemadlaratan” bagaimana membuat kemadlaratan itu tidak terlalu besar. Jika ini “mubah” tugas kita adalah bagaimana merubah hal mubah ini menjadi bernilai. Percaya, masih ada Allah yang akan menurunkan hidayahnya pada pemimpin-peminpin kita walaupun jumlahnya bisa saja hanya sedikit. Sekarang giliran kita, saatnya kita memilih, menganalisa yang terbaik yang harus dipilih, karena memang itu pilihannya, memilih. Jika yang terlihat semua kandidat itu buruk, maka pilihlah yang terbaik dari yang buruk itu. Pilih yang paling sedikit madlaratnya dan singkirkan partai atau orang-orang yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Wallahu’alam Bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s