Skripsi “Strategi kampanye Tim Sukses Hade dalam Memenangkan Pilkada Jabar 2008 (Penelitian pada Tim Sukses Kemenangan Pilkada Jabar Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf)

Skripsi “Strategi kampanye Tim Sukses Hade dalam Memenangkan Pilkada Jabar 2008 (Penelitian pada Tim Sukses Kemenangan Pilkada Jabar Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf)

ABSTRAKSI

Tahun 2008 merupakan tahun yang bersejarah, dimana pada tahun ini pertama kali diselenggarakan Pilkada langsung di Jawa Barat. Kandidat yang mendaftarkan diri pada bursa Pilgub ini adalah Dani Setiawan-Iwan Sulandjana (Da’i), Agum Gumelar-Nukman Abdul Hakim (Aman) dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade). Berdaarkan berbagai hasil survey, hampit tidak ada satu lembaga survey-pun yang mengunggulkan Hade, karena Hade dianggap relatif baru dan belum mempunyai pengalaman di pemerintahan, serta berbagai faktor lain. Tetapi nyatanya Hade memenangkan Pilkada tersebut, sebuah fenomena yang tak diduga oleh berbagai lembaga survey dan para pakar politik.

Dari fenomena tersebut, rasanya menarik jika diteliti strategi apa yang dilakukan TIm Sukses Hade dalam berkampanye. Strategi menurut Adnanputra adalah bagian terpadu dari perencanaan dengan proses manajemen lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta pengendalian Tim Sukses Hade dalam melakukan kampanye pada Pilkada Jabar 2008.

Dasar acuan yang digunakan adalah teori SMCR (Source-Message-Channel-Receiver) dari David K. Berlo, teori tahapan kampanye yang dinamai The Five Funcional Stages Development Model atau Model Perkembangan Lima Tahap Fungsional, serta teori tahapan perubahan (Stages of Change Theory).

Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi kampanye TIm Sukses Hade lebih difokuskan pada perencanaan. Selain strategi kampanye Tim Sukses Hade yang apik, ternuata ada faktor lain yang mendukung kemenangan Hade, yaitu karakteristik dan kondisi pemilih. Bedasarkan analisis serta pandapat para tokoh komunikasi politik, kemenangan Hade didukung oleh keadaan warga Jawa Barat yang sudah jenuh dengan pemerintahan yang lalu, dengan krisis ekonomi yang sedang melanda atau disebut Effendi Ghazali sebagai ORCA (Orde cape antri), serta kerinduan warga Jawa Barat terhadap pemimpin baru, menjanjikan harapan baru serta tidak punya sejarah pemerintahan lama.

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan, proses perencanaan Tim Sukses Hade dilakukan dengan analisis SWOT, pembentukan GRAND STRATEGY, pencitraan Hade dengan slogan “pemimpin baru, harapan baru”, serta terobosan pada model kampanye yang diterapkan. Proses pengorganisasian Tim Sukses dibagi pada tiga level DPW, DPP, dan DPC. Proses pengarahan serta pengendalian Tim Sukses Hade cenderung dilaksanakan secara spontan di level masing-masing. Terakhir, dapat diketahui bahwa selain faktor strategi Tim Sukses Hade, faktor karakteristik warga Jawa Barat-pun menjadi faktor pendukung kemenangan Hade.

Bandung, 20 Oktober 2008

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kehidupan politik di Indonesia berangsur-angsur berkembang. Diawali dengan sistem pemilihan Presiden langsung, pemilihan anggota Lembaga Legislatif langsung. Pemilihan Kepala Daerah langsung, serta Pemilihan Walikota / Bupati langsung.

Sistem pemilihan langsung ini memberikan peluang yang besar bagi para tokoh Jawa Barat, bahkan tokoh Nasional untuk berpartisipasi menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Hal itu terbukti dengan terdaftarnya tiga pasang calon Gubernur dan wakil Gubernur Jawa Barat. Kandidat yang dimaksud adalah pasangan incumbent Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana,Agum Gumelar dan Nu’man Hakim, serta Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.

Pasangan pertama diusung oleh partai besar yaitu partai Golkar dan Demokrat, Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana. Danny Setiawan sebagai incumbent ini cukup percaya diri dirinya akan terpilih lagi menjadi Gubernur Jawa Barat karena telah memiliki basis masa.

Pasangan kedua Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim. Agum Gumelar yang merupakan tokoh Nasional, bahkan pernah mencalonkan sebagai wakil presiden RI tak kalah mahsyur bagi rakyat Indonesia, kiprahnya di dunia politik nasional menarik perhatian massa pemilih Jawa Barat dan di luar Jawa Barat. Didukung dengan pengalaman Nu’man yang merupakan mantan Wakil Gubernur Jawa Barat telah memiliki massa tersendiri.

Pasangan selanjutnya yaitu pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf yang merupakan generasi pendatang baru, dari kakum muda, dan relatif belum terlalu lama di dunia politik dibanding para pesaingnya. Pasangan yang diusung oleh partai PAN dan PKS ini percaya diri melaju ke bursa PILKADA Jawa Barat dengan menggunakan strategi “in frontier” (pemimpin-pemimpin baru, lebih muda, yang mengusahakan kebijakan inovatif serta memiliki energi dan semangat yang tinggi).

Berbagai survey dan penelitian pun dilancarkan beberapa lembaga survey pemerintah maupun swasta. Banyak lembaga yang mengeluarkan hasil perkiraan bahwa pasangan AMAN akan unggul dan pasangan Hade merupakan pasangan yang tidak diunggulkan karena selain didukung hanya oleh 2 partai, Hade merupakan pasangan yang relatif belum lama di dunia politik. Di lihat dari basis politik, keunggulan Hade itu di luar “matematika” politik. Jawa Barat adalah basis Golkar di Pulau Jawa. Tapi, dalam pencoblosan kemarin, suara yang diraih pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana (Da’i) justru tertinggal jauh. Padahal Danny adalah incumbent Gubernur.

Dalam situs yahoo dikatakan, tidak sedikit masyarakat yang menganggap Pilkada Jabar 2008 adalah pertarungan dua gajah (Danny-Iwan versus Agum-Nu’man) yang memperoleh dukungan politik parpol-parpol raksasa. “Kecenderungan masyarakat kita ini kan gampang jatuh simpati. Akhirnya pilihan pun jatuh ke pasangan “semut” yang ada di tengah para gajah yang bertarung ini”. Jumlah pemilih yang punya pikiran begini ini tidak sedikit. Hasil Pilgub Jabar 2008 pun datang dengan amat sangat mengejutkan. Kemenangan Hade itu benar-benar di luat perhitungan. Mereka hanya dianggap sebagai underdog. Buktinya, Heryawan maupun Dede pernah ditolak Danny Setiawan saat melamar posisi calon Gebernur. Mereka juga ditolak Agum Gumelar.

Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai, kekalahan Danny Setiawan lebih dipengaruhi faktor kekecewaan masyarakat terhadap calon incumbent itu. Sosok Agum Gumelar juga dianggap sebagai bagian dari wajah lama. “Siapapun calon di luar mereka berdua (Danny an Agum) memang bisa menang asalkan populer dan mesin politiknya bisa mengakselerasi”. Beliau menambahkan bahwa Hade benar-benar terlihat sebagai figur muda. “Jadi pemilih pemuda ngeblok ke mereka”. Padahal, Kata Qodari, perolehan suara Partai Golkar di Jabar mencapai 29,4 persen dan PDIP 16,7 persen pada pemilu 2004. Sementara itu, PKS berada di posisi ketiga dengan perolehan suara 11,4 persen. Kemudian, PPP memperoleh 9,9 persen dan Partai Demokrat meraup 8,3 persen suara. (www.yahoo.com). (bersambung)

2 thoughts on “Skripsi “Strategi kampanye Tim Sukses Hade dalam Memenangkan Pilkada Jabar 2008 (Penelitian pada Tim Sukses Kemenangan Pilkada Jabar Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s