Fenomena bolotisme

Fenomena bolotisme

Rasanya saya pernah menulis ini, tapi saya lupa dimana tulisan ini saya muat. Barangkali saya kurang puas dengan tulisan saya waktu itu, sehingga saya berpikir untuk menulisnya lagi. Tentu saja dengan gagasan yang barangkali berbeda dengan yang dulu.

Bolotisme adalah istilah yang saya dapat dari teman saya. Secara harfiyah bolotisme diambil dari kata bolot (bolotnya bang bolot). Sebuah penokohan pentang pribadi yang tidak mau mendengarkan dan tidak mau peduli atas apapun yang terjadi di hadapannya sekalipun, kecuali ada uangnya alias uang dengar.

Barangkali fenomena itu yang terjadi di era kapitalisme seperti sekarang. Era yang dengan angkuh mengagungkan golongan yang punya modal (uang). Siapa yang punya uang dia yang berkuasa. Segala tindak tanduk manusia dihitung berdasarkan keuntungan materilnya. “Jika tidak menguntungkan buat apa menolong?”. Mungkin kalimat itu yang trend saat ini.

Contoh kecilnya bisa kita lihat di perumahan-perumahan yang ada di kota. Penghuni satu rumah dengan rumah yang lain pasti tidak saling kenal. Coba tanyakan nama RW di sekitar situ, pasti kebanyakan orang tidak tahu namanya. Itu terjadi karena kita merasa tidak membutuhkan tetangga, segala hal bisa diselesaikan oleh keluarga dan barangkali pembantu, jadi ga kenal tetangga ya ga rugi. Betul ga?

Satu lagi contoh lain, betapa banyaknya kaum dhuafa di sekitar kita, namun apa kita sering memperhatikannya? rutin? Sesekali barangkali suka, tapi lebih banyak lupanya, karena kita tahu dengan menolong mereka tidak ada keuntungannya secara materil.

Zaman sekarang, parkir harus pake uang, gotong belanjaan harus pake uang, minta tolong harus pake uang, dorong mobil harus pake uang, bantu nyebrangin jalan harus pake uang, ke toilet harus pake uang, semuanya harus pake uang. Bicara dorong mobil, bapak saya pernah cerita, dulu waktu saya masih kecil bapak punya mobil tua, kalo mobil di perjalanan mogok, banyak orang yang langsung lari mau nolongin dorong mobil, tanpa bapak panggil. Setelah selesai mendorong dan mobil berhasil hidup lagi mereka bergegas pergi takut dikasih uang, karena pada waktu itu dikasih uang setelah menolong dianggap gak biasa. Bapak manggil-manggil sambil melambaikan uang ribuan mereka cuma menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum berkata “gak usah pak”. Sekarang? Gak kebayang deh gimana ngambeknya kalo ada orang yang udah capek-capek ngedorong dang a dikasih imbalan. Memang sih ga semua, masih banyak yang tulus.

Padahal, tahukah anda? Tidak setiap aktifitas kita harus dapat keuntungan materil. Banyak keuntungan yang bisa kita tuai yang lebih besar dari sekedar materi. Jika kita perhatikan, banyak hal kecil yang kita lupakan. Hal kecil yang seperti tidak menghasilkan keuntungan untuk kita tetapi sebenarnya memiliki hikmah yang sangat besar.

Berbeda dengan bang bolot yang tidak peduli keadaan sekitar kalau tidak ada uangnya, nampaknya kita harus selalu peduli dengan sekitar walaupun secara sepintas itu tidak mendatangkan keuntungan apa-apa. Seperti 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun.

Sadarkah anda, sekarang kita lebih jarang menerima senyuman dari orang-orang disekitar kita, dari anak-anak kecil di sekitar rumah, dari teman-teman diluar divisi tempat anda bekerja, dll. Atau kita sendiri yang jarang memberi senyum kepada mereka. Ketika keluar rumah banyak orang disekitar rumah, misalnya tukang ojek ataupun tetangga, dengan lempengnya kita lewat begitu saja tanpa memberi senyum apalagi salam.

Berbeda dengan di perusahaan-perusahaan besar seperti swalayan, bank, mall dll. Di tempat-tempat komersil itu senyum yang ramah dan cantik sering kita jumpai, karena apa? Karena itulah jualan mereka. Dengan senyum pelanggan  akan senang dan scara tidak langsung perusahaan akan mendapatkan keuntungan dari itu. Senyum demi mendapat keuntungan. Selesai jam kerja mereka pulang dan kembali menjadi orang yang judes.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s